buku · Gramedia · Ika Natassa · Metropop

Lewat Berkenalan menjadi Cerita [Review] Critical Eleven – Ika Natassa.

​Judul Buku: Critical Eleven

Penulis: Ika Natassa

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2015

Jumlah Halaman: 399 halaman

No. ISBN:978-602-03-1892-9

Genre: Fiksi, Metropop

The Sinopsis

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah Critical Eleven, sebelas menit paling kritis dalam pesawat-tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing- karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umunya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way. I’ts kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah- delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah seseorang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Blurb

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya. Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka. Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan sesuatu yang membuat para pembaca menjadi tau perasaan mereka masing-masing. 

Great Book ever

Salah satunya, dan yang paling sadisss, adalah Ika Natassa dan karya ketujuhnya: Critical Eleven. Konon, hanya dalam 11 menit 1.111 buku pre order habis terjual! Dan, lebih sadis lagi, Critical Eleven kembali laris dalam hitungan menit ketika mba Ika dan Gramedia menjual karyanya demi merayakan Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-70.

Anjir sadis gak? Mana ada yang bisa seperti itu? Yang bisa hanya seorang Ika Natassa saja!

The First I Meet

Pertama kali lihat novel Critical Eleven berjejer apik di rak toko buku, aku kira novel ini adalah novel yang berkisah tentang seorang pilot. Yaa bagaimana aku nggak berpikir seperti itu. Dengan cover depan bergambar sebuah pesawat? Aku tidak mengira bahwa itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan seorang pilot. 

Pertama kali liat blurb di belakang cover, baru aku menyadari bahwa, ini tentang seseorang yang di pertemukan di sebuah pesawat. Ide yang sangat bagus dan juga sangat Antimainstream.

The Book

Cerita kehidupan Aldebaran ‘Ale’ Risjad dan Tanya ‘Anya’ Laetitia Baskoro ini dimulai dari terdamparnya Anya di sebuah bandara bersama pikirannya yang mulai melanglang buana, mempertanyakan arti kehidupannya yang kemungkinan besar nggak akan memiliki tujuan, seandainya dia nggak punya boarding pass dan nggak harus terbang…. 

aku merasa hidupku akhirnya punya tujuan, walaupun tujuannya hanya berupa tiga huruf. CGK, SIN, ORD, TTE, HKG, LGA, EWR, NRT.(hal. 6)

Kepercayaan Anya itu membuatnya lega, meski nggak sepenuhnya mengusir kekosongan dalam dirinya. Masih ada sesuatu yang dirindukan Anya. Dengan pemikiran demikian, Anya pun menaiki pesawat yang akan menuju Sydney. Dan di sanalah dia bertemu dengan Ale, teman seperjalanannya. Lelaki itu tengah tertunduk membaca buku dan baru menengadahkan kepalanya dan menatap Anya sewaktu Anya menjelaskan bahwa kursinya ada di sebelah Ale. Selebihnya, Ale kembali bersikap sopan dan diam. Dia nggak bersikap berlebihan atau menggoda Anya. Yang nggak diketahui Anya, ternyata lelaki yang bekerja sebagai petroleum engineer, atau ‘tukang minyak’ kalo menurut Ale, itu jatuh cinta pada Anya. Sejatuh-jatuhnya. Dia nekat menjalin hubungan dengan Anya tanpa memedulikan jarak antara mereka, atau sempitnya kesempatan yang dia punyai seandainya dia menjalin hubungan—Ale hanya punya 156 hari di Jakarta. Selebihnya? Dia menghabiskannya di kantornya, di pengeboran minyak lepas pantai. Ale bahkan dengan nekatnya menghabiskan tabungannya demi membangun rumah sebulan setelah berpacaran dengan Anya, dengan pemikiran bahwa it would be their home.

Tapi benarkah Ale dan Anya sudah melewati 11 menit masa kritis pada perjumpaan pertama mereka? Sebab, membangun rumah tangga amatlah berbeda dengan momen critical eleven.

The Character of Critical Eleven

1. Ale (Aldebaran Risjad) 

Gue suka kopi, ketoprak, kastengels, udara bebas, buku, film, lego, dan kerja. Hidup gue sesederhana itu (hal. 28).

Tapi kesederhanaanmu membuat semua pembaca novel Critical Eleven klepek-klepek. As always, para lelaki hasil reka imajinasi mba Ika Natassa selalu indah dibayangkan dan sedap diimpikan. Termasuk anak ‘Pak Jendral’ yang satu ini. Terlahir sebagai sulung dari lima bersaudara, Ale tak jauh berbeda dari gambaran kebanyakan anak pertama: pendiam, suka galau gampang mikir sekaligus gampang ragu-ragu… Salah satu hal yang menarik mengenai Ale adalah, meski dia nggak pede sering membandingkan dirinya dengan adiknya, the famous Harris Risjad, yang hidup dan bernapas dengan bebas di Antologi Rasa karya mba Ika Natassa, Ale justru lebih berani mengambil keputusan. Misalnya saja sewaktu dia melamar Anya. Seminggu setelah berhasil bertemu lagi dengan Anya, Ale langsung mengajak wanita itu berpacaran. Dan sebulan setelah pacaran, Ale berniat membangun rumah dan menggunakan seluruh tabungannya. Padahal Ale begitu sederhana. Aldebaran Risjad punya satu kualitas yang jarang aku temui pada laki-laki lain: dia bisa mengubah situasi secanggung apa pun menjadi sesuatu yang seharusnya memang terjadi dan tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa.

2. Anya (Tanya Laetitia Baskoro)

Aku harus selalu menyibukkan diri dengan sesuatu, karena setiap aku diam, my mind would start to wonder to places I don’t want it to wonder to (hal. 5).

Anya pun mendapatkan posisi di management konsultan. Karena mungkin dengan begitu akan ada banyak hal yang harus diatur dan diawasi dan ada banyak klien—dan permasalahan mereka—yang bisa menyibukkan pikiran Anya. Bisa jadi, karena itulah Anya menerima Ale. Karena lelaki yang dulu kerap dipanggilnya ‘Dickhead’ sederhana. Anya mungkin ingin menyederhanakan pikiran ruwetnya dengan ‘bantuan’ Ale. Termasuk rasa sepinya.Tapi, layaknya interaksi normal antar manusia, hubungan keduanya tidak selamanya sederhana atau penuh sesak oleh cinta. Pada satu titik, Anya kembali sendiri, terdiam bersama pikirannya yang mengembara. Ternyata, mengalihkan pikiran dari satu masalah nggak berarti kita benar-benar nggak memikirkan masalah itu. Anya punya kualitas yang tidak semua orang beruntung miliki. 

Anya adalah perempuan dengan sosok yang kalem, lebih  thought full saat akan mengambil sebuah keputusan. Padahal Anya diceritakan lebih muda dari Ale. 

Point Of View

Di cerita Critical Eleven, kita akan menemukan dua macam POV. Yaitu POV Ale dan juga Anya.

Berbeda dari novel-novel sebelumnya yang selalu menggunakan Point Of View orang ketiga serba tau, mba Ika Natassa Membuat sesuatu yang baru di dalam ceritanya ini.

Dengan POV Ale dan Anya, kita bisa lebih merasakan pergulatan batin, perasaan dan kegelisahan di antara mereka dengan sempurna. Terlihat begitu nyata dan mengagumkan saat kita membacanya.

Quotes Of Critical Eleven

“Kalau memang benar-benar sayang dan cinta sama perempuan, jangan bilang rela mati buat dia. Justru harusnya kuat hidup untuk dia. Rela mati sih gampang, dan bego….” (hal. 324).

“Nya, orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.”


About Movie
Kabar gembira untuk penggemar mba Ika Natassa! Yep. Critical Eleven mau jadikan Film! Yeaaaay *excited*

Aku selalu excited kalau ada film berasal dari sebuah karya  novel. Entah kenapa, seneng banget sekaligus takut sih, takut gak sesuai ekspetasi buat pemainnya. Karena secara tidak langsung imajinasi seseorang selamanya tidak sama. Tapi menurut aku banyak film yang berasal dari novel yang jadi viral dan sangat terkenal, contoh saja Harry Potter, Fifty Shades of Grey ataupun The Lords of The Rings.

Mba Ika Natassa sendiri memilih rumah produksi Legacy Pictures dan Starvison untuk menggarap film Critical Eleven ini.

Sekarang lagi banyak yang mengunggah treaser poster dari Critical Eleven, entahlah ini asli atau hanya buatan dari para fans mba Ika Natassa, tapi ternyata bener loh, ini treaser resmi Critical Eleven.

Pemain Critical Eleven

Di treaser Critical Eleven. Pemainnya ialah  Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Dan aku sangat setuju kalau mereka yang jadi Ale-Anya!

Reza Rahadian as Aldebaran Risjad.

Wow, siapa sih yang gak tau sosok Reza Rahadian ini? Aku rasa semua orang Indonesia tau deh siapa itu Reza Rahadian. Dia sukses menjadi aktor yang paling sukses saat ini karena kepandaian dan kelugasannya dalam bermain suatu film.

Dan Reza Rahadian ini multitalent banget! Dia bisa jadi sosok apapun! Mau jadi bos galak? Bisa! Boss gila? Bisa! Memerankan tokoh terkenal? Bisa! Kayaknya apa aja bisa deh.

Reza Rahadian juga ganteng banget kok orangnya😄 jadi aku rasa, Reza bisa jadi sosok Ale dalam Critical Eleven ini!

Adinia Wirasti as Tanya Laetitia Baskoro

Siapa yang gak tau Adinia Wirasti, pemain film AADC sebagai debut pada tahun 2002. Di film AADC Adinia Wirasti atau yang sering di sapa Asti ini sukses memerankan sosok Carmen. 

Dia juga sukses memerankan sosok Marsha dalam film Laura dan Marsha bersama Prisia Nasution.

Asti ini juga model loh! Dia masuk 20 model paling cantik Se-Indonesia pada tahun lalu. Asti emang cantik banget sih, dan menurutku dia cocok banget berperan sebagai Anya di Critical Eleven.

Proses Produksi

Proses produksi film Critical Eleven sudah dimulai. Sebagaimana foto di bawah ini 👇👇

Film Critical Eleven sepertinya sudah masuk tahap syuting, aku perkirakan sih tahun depan baru kita bisa nonton Ale-Anya di dunia nyata.

Nih, salah satu scene dari film Critical Eleven. Aku dapat dari Instagram resmi Critical Eleven.

Photos Of Critical Eleven Movie

Cocok gak?

Yang ini pas Press conference 14 Desember 2016 lalu.

Adinia Wirasti, Reza Rahadian dan Ika Natassa!

Waaaah ada Dian Sastro? Apakah dia main di film Critical Eleven? Kita semogakan saja yaa. Biar filmnya makin kece! 

My Hope about Critical Eleven Movie.

Harapan aku buat Critical Eleven movie ialah sukses! Aku yakin banget sih film ini bakal laris-manis di pasaran. Karena banyak banget yang nungguin film ini di rilis. Ada kemungkinan filmnya di liris tahun depan, semoga syutingnya lancar tak terkendala apapun. Amiiiin🙏

Dan semoga saja film ini meraih banyak penghargaan bergengsi di dunia perfilman Indonesia. Sekarang kan perfilman Indonesia semakin bagus, jadi film ini mungkin salah satunya. Kita doakan saja ya😄 yaa karena Novel Critical Eleven saja sudah National Best Seller, gimana filmnya? Pasti WOW banget!

Satu Kalimat Untuk Critical Eleven.

The most great book ever i read.

#baper *Aku klepek-klepek sama Ale* #AleRomantisBanget *Boleh bawa pulang nggak Alenya?*😄😄😁  

Thank you for coming😄 

Advertisements

2 thoughts on “Lewat Berkenalan menjadi Cerita [Review] Critical Eleven – Ika Natassa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s