buku · Gramedia · Seplia · Teen Fiction

[Review] Insecure – Seplia | Blue Hood.


​​Judul Buku: Insecure

Penulis: Seplia

Editor: Midya N. Santi

Desain sampul: Orkha Crative

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-2766-2

Jumlah Halaman: 240 Halaman.

Genre: Teen fiction.

Sinopsis

– Zee –

Jangan menatap luka dan memar di tubuhku. Jangan berani bertanya apa yang terjadi. Menjauh saja dariku. Hanya dengan begitu, aku merasa aman.

– Sam –

Meski orang lain menganggap otak gue nggak guna, setidaknya tubuh gue selalu siap menjadi tameng untuk melindungi orang-orang yang gue sayang. Buat gue, itu lebih dari sekadar berguna!

Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam. Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama. Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.

Review

Insecure bercerita tentang Zee dan Sam, dua murid SMA yang sedang menjalani tahun terakhir. Zee orangnya tertutup dan pendiam, dia jarang bisa bersosialisasi sehingga dia dipindahkan ke kelas yang terkenal bermasalah, dengan tujuan Zee tidak lagi apatis dengan sekitarnya dan memiliki teman. Satu-satunya murid yang mau duduk dengan Zee hanya Sam, anak paling bandel di sekolah, sering terlambat, sering melawan guru dan membolos. Sikap Sam yang nyablak dan semaunya sendiri membuat Zee mau nggak mau harus meladeni apa pun yang diciptakan Sam, terpaksa memberi contekan dan sedikit demi sedikit membuat Zee lebih terbuka, walau hanya sekadar berbicara.

Sam mengerti apa yang dialami Zee, ada sesuatu yang dirahasiakannya, terlebih ketika Komisi Perlindungan Anak (KPAI) datang ke sekolah mereka dan memberikan penyuluhan tentang kekerasan pada anak, Zee sedikit menarik diri. Sam yakin lebam-lebam yang selama ini coba disembunyikan Zee tidak berasal dari jatuh di kamar mandi, Sam ingin membantu Zee, karena dia juga pernah mengalami hal yang sama, dia anak korban KDRT, dan dia sangat tahu bagaimana sakitnya, baik secara fisik maupun psikis. Selain itu, hanya Zee yang bisa mengerti Sam, akan impiannya, akan kemampuan yang Sam miliki ketika dia berencana menjadi Polisi.

Mereka berdua adalah dua orang yang sama-sama terluka dan berusaha lepas dari ketakutan, berusaha menemukan penyembuh dan kebahagiaan.

“Ternyata kita tidak bisa belajar untuk mencintai, sebab hati kita akan mencintai dengan sendirinya. Jauh dari dalam lubuk hati ini, kita tahu sebenarnya kepada siapa hati kita memilih jatuh.”

Ini adalah buku kedua kak Seplia, yang pertama berjudul Replay. Bedanya, Replay masuk ke label Young Adult, sedangkan Insecure masuk ke Teenlit, mungkin karena tokoh di buku ini masih SMA sehingga memiliki label yang berbeda, walau dari segi genre keduanya sama-sama bergenre mental illness.

“Kita bisa belajar lebih kuat dari pengalaman buruk. Jadi sosok yang lebih baik ke depannya.”

Dari segi penyampaian konflik, walau tidak detail, cukup tergambarkan dengan baik, pembaca dengan mudah Memahami isi dan cara penyampaiannya sangat pas, tidak terlalu bertele-tele.
Insecure bagian awal membuat aku susah beradaptasi, harus sedikit demi sedikit menyelami apa yang dirasakan oleh kedua tokoh utamanya karena baik dialog maupun narasi terasa kaku, tidak semengalir buku debut penulis. Mungkin karena penulis baru pertama ini menggunakan sudut pandang orang pertama, di mana Zee dan Sam menjadi narator secara bergantian tiap bab karea di buku debut kak Seplia, Replay penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Penulis harus menyelami karakter Zee dan Sam yang bertolak belakang lebih dalam, penulis harus menjadi dua pribadi yang memiliki sifat bertentangan, Zee yang pendiam sedangkan Sam yang badung. Kekakuan sangat aku rasakan pada diri Sam, terlebih pas adegan ketika dia memalak makanan dari teman-temannya. Karakternya digambarkan sebagai badboy, semaunya sendiri, sering menentang perintah guru, ditakuti di sekolah, tidak segan-segan berantem dengan seseorang kalau ada orang yang disayanginya dilukai. Awalnya aneh, tapi seiring aku membaca sampai akhir, Sam tetaplah Sam, ya memang begitu karakternya, karakternya konsisten. 

Tidak ada masalah untuk karakter Zee, dia digambarkan perempuan yang lemah, dia menerima apa saja yang dilakukan ibunya karena dia takut kehilangan, hanya dia satu-satunya keluarga yang Zee punya, karena Zee butuh ibunya. Mungkin sifat Zee ini bikin geregetan banget karena tidak bisa melawan atau mengadu pada seseorang, tapi biasanya memang orang seperti itulah yang mengalami kekerasan, yang tidak bisa melawan dengan dalih tidak memiliki siapa-siapa. Dan dengan karakter yang lain, semua konsisten, kalaupun ada yang berubah, lebih ke perubahan karena permasalahan yang dihadapi.

Tadinya aku sempat ngeri dengan tema yang di angkat oleh kak Seplia. Kekerasan pada anak, salah satu permasalahan yang lumayan banyak terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Pertama sempat geregetan juga dengan Zee yang tidak mau melapor sang Ibu, namun aku mengerti, jika aku di posisi Zee aku juga melakukan apa yang Zee perbuat, namun aku akan tetap membaginya dengan sahabatku sendiri.

Saat Ibunya memberikan kekerasan kepada Zee, aku seperti merasakan hal yang sama, aku juga sempat memaki-maki Ibunya saat membaca Insecure ini, Mana ada seorang Ibu yang tega memberikan kekerasan kepada buah hatinya? Kemana rasa bahagia saat mengandung dan merasakan sakitnya melahirkan? Aku sedih sekali.

Ibu ku pernah berkata bahwa, “Anak yang baik berasal dari sikap pembelajaran yang di berikan kedua orang tuanya. Baik sejak mengandung dan saat kita sudah lahir di dunia.” Semarah-marahnya Ibuku, ia tidak akan main tangan, karena menurutnya kekerasan bukanlah hal yang baik dalam menyelesaikan sebuah masalah, Ibuku hanya akan memberikanku wejangan dan kembali menjadi seperti biasa. Dan aku sangat mensyukuri bahwa aku di berikan kedua orang yang sangat menyayangiku.

Aku juga suka penulis menyelesaikan semua permasalahan kedua tokoh utamanya.Walaupun masih ada sedikit kekurangan, buku ini sangat recommended bagi para pembaca yang masih SMA kayak aku hehe, tema yang lumayan berat karena bercerita tentang kekerasan terhadap anak pada ceritanya penulis sampaikan secara ringan dan mudah diterima siapa saja. Selain itu, buku ini juga bercerita tentang makna keluarga, persahabatan, dan meraih sebuah impian.

Aku memberikan 3,8 stars of 5 stars.

Dan Thanks to kak Seplia, yang membuka mata hatiku bahwa aku tidak boleh menyia-nyiakan kedua orangtua ku, dan akan selalu membahagiakan nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s