buku · Gramedia · Metropop · Seplia

[Review] Three Sisters – Seplia | Blue Hood.

Judul: Three Sisters

Penulis: Seplia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 266 Halaman

ISBN: 978-602-03-4010-4


Blurb


Bagi Rera, jodoh adalah hal krusial. Dia memiliki standar yang tinggi sehingga belum menikah di umurnya yang sudah matang.

Bagi Gina, menikah adalah penjara. Dia baru mengetahui hal itu setelah hidupnya dihabiskan dengan mengurus keluarganya.

Bagi Yumi, belum memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah adalah hal menyedihkan. Dia makin tertekan karena mertuanya gencar menanyakan hal tersebut.

Tiga saudari ini menginginkan kehidupan yang berbeda, bahkan rela melepas apa yang mereka miliki. Namun, mereka tak menyadari bahwa kehidupan mereka mungkin diinginkan oleh orang lain.


The Book


Marriage is not a wedding. Pernikahan bukan resepsi pesta. Arti marriage sangat sakral karena menyangkut jiwa dua orang yang saling mencintai untuk selamanya bersama dalam satu ikatan janji. Sementara itu arti wedding hanya sekadar rangkaian upacara pesta menuju arti pernikahan yang sebenarnya.”

Three Sister adalah karya kedua kak Seplia yang aku baca setelah Insecure. Berbeda dengan novel sebelumnya yang aku baca, Three Sister menceritakan tentang tiga saudari yang memiliki masalah pelik dalam hidupnya, khususnya menyangkut dengan cinta dan pernikahan.

Di dalam novel ini, kita akan menemui Rera, si sulung yang belum menikah padahal usianya sudah sangat cukup untuk menikah. Apalagi Rera adalah seorang wanita. Di Indonesia, wanita yang belum menikah padahal usianya sudah mencukupi pasti menjadi gunjingan banyak orang, entah disangka enggak laku ataupun perawan tua. Dan itu yang Rera rasakan.

Rera hanya memiliki kriteria tinggi untuk pasangannya. Ia ingin pasangan yang sempurna untuk hidupnya. Untuk selama-lamanya, makanya sangat sangat selektif memilih calon suaminya.

“Jodoh di tangan kita sendiri. Bukan di garis keturunan, kasta, warna kulit, profesi, umur, atau banyaknya digit di rekening.”

“Tapi gimana ya, kalau nggak menikah itu rasanya ada yang kurang aja bagi seorang perempuan. Kayak nggak sempurna gitu.”

Beda lagi dengan Gina.

Gina ini menikah muda dan sudah di karuniai dua anak yang mengemaskan. Punya suami yang pengertian dan sangat mencintainya. Lantas apa permasalahnya? Permasalahannya ialah Gina jenuh dengan pernikahannya. Dia capek dengan anak-anaknya yang masih kecil dan merepotkan. Dan disaat ia jenuh dan tertekan, datanglah seorang pria yang malah mendukung Gina untuk lepas dari kukungan penjara yang dinamakan ‘pernikahan.’

“Aku berpikir pernikahan bukan surga, melainkan penjara tak kasatmata.”

“Kamu juga, Gina. Jangan sibuk kerja terus. Sering-sering bersama anak dan suamimu. Tempat pulang itu bukan kantor,tapi keluarga.”

Si Bungsu, Yumi, pernikahannya tidak ada masalah yang cukup berarti, hanya ada satu menjadi masalah ialah ia belum di karuniai anak padahal ia sudah tiga tahun menikah. Itu menyebabkan mertuanya selalu menyudutkannya. Bahkan mertuanya menyuruh Yumi untuk periksa kandungan (yang nyatanya mereka sehat-sehat saja) dan paling parah ialah, Mereka, Yumi dan Ozi (suaminya) di suruh datang ke tukang urut kenalan mertuanya!

Mertuanya itu membuatnya tertekan!

“Tidak ada menantu yang sempurna, wahai orangtua!”

Jalan ceritanya sangat mewakili kehidupan wanita-wanita jaman sekarang.

Masalah belum punya anak, bosan dengan kehidupan rumah tangganya dan belum menikah di usia matang.

Dan di novel ini kalian akan melihat ketiga sisi tersebut dengan porsi yang pas, nggak kurang sama sekali.

Walaupun ending ceritanya udah ketebak, tapi cerita tentang tiga bersaudari ini layak untuk di ikuti.

Novel ini secara enggak langsung juga meng-edukasi kita loh! Tentang mencari laki-laki yang menurut kita sempurna, tapi kalau takdir dan cinta berkata lain, mau laki-laki itu enggak sesuai dengan kriteria yang kita buat, tetap aja kita cinta dan jodoh.

Tentang cara menjadi orangtua yang baik untuk anak-anaknya serta tentang kesabaran buat wanita yang mempunyai mertua rese hahaha.

Lalu, aku suka banget sama covernya! Cantik banget, dan aku enggak nyangka sama sekali kalau novel ini hanya 266 halaman. Seriously, soalnya kan bukan hanya satu pasangan doang, tapi tiga! Dengan permasalahan yang berbeda-beda.

Three Sisters adalah novel three in one yang reccomended banget buat kalian yang suka baca novel romance, marriage life dan metropop.

Thanks kak Lia udah buat novel luar biasa ini.


Quotes


“Jatuh cinta secara alami memang lebih baik ketimbang diusahakan untuk jatuh cinta.”

“Memang begitu kalau sudah cinta. Sebanyak apa pun syarat pasangan ideal dalam kepala kita, saat kita sudah jatuh cinta pada seseorang semua itu nggak guna lagi.”

“Apa pun yang terjadi, kembalilah pulang pada pasanganmu, pada orangtuamu, saudaramu, anak-anakmu. Jangan pedulikan omongan sampah orang yang berpotensi ninggalin kamu saat kamu nggak lagi cantik, nggak lagi bekerja, nggak lagi sehat. Jangan.”

“Buat apa punya teman yang mulutnya selalu menggunjingkan orang lain yang kebetulan nasibnya tak sebaik mereka?”

“Menerima seseorang apa adanya berbeda dengan memilih siapa saja asal ada.”

4 of 5 stars of Three Sisters!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s