Alma Aridatha · buku · Penerbit Ikon · Teen Fiction

[Review] No Place Like Home – Alma Aridatha | Blue Hood.

Judul: No Place Like Home

Penulis: Alma Aridatha

Penerbit: Ikon

Jumlah Halaman: 289 Halaman

ISBN: 978-602-74653-7-4



Blurb

Ganda tahu, kehidupan yang disebut sempurna tak sepenuhnya ada. Dia baru tahu siapa ayah kandungnya di usia sepuluh tahun. Sosok itu datang, mencoba mendekat, membuat ayah tiri yang juga disayanginya sedari kecil menjauh tanpa alasan yang pasti.

Ada banyak anak lain yang harus tumbuh tanpa orangtua di luar sana, tapi Ganda memiliki dua pasang orang tua sekaligus. Di saat anak-anak lain bisa berdamai sekaligus menikmati ‘ketidakberuntungan’ yang ada dalam hidup mereka, Ganda justru merasa kosong di antara semua yang seharusnya pantas disebut ‘keberuntungan.’

Keinginan Ganda sederhana. Dia mencoba mengisi hal-hal yang hampa itu dengan mencari tempat berteduh—yang memang tersedia untuknya. Yang kelak bisa ia sebut rumah. Meskipun, dia sendiri tidak sepenuhnya yakin.


The Book and Review


“Cuma karena dia nggak punya orangtua lengkap, nggak tahu siapa ayah biologisnya, bukan berarti dia produk gagal. Cuma karena orangtuanya bikin kesalahan, bukan berarti dia yang harus nangung akibatnya.” — Hal. 124

“Mereka lupa sama kenyataan kalau aku nggak pernah minta keadaan kayak gini. Siapa sih yang mau lahir jadi anak haram? Nggak ada, aku yakin. Tapi nggak ada yang peduli. Yang mereka tahu, kelakuan mamaku hina, aku anak hasil zina. Dan aku harus terima hidup dengan label itu selamanya.”  — Hal. 240

No Place Like Home berkisah tentang Ganda yang memiliki dua pasang orangtua. Dia baru mengetahui siapa ayah kandungnya saat berusia sepuluh tahun. Tadinya ia marah terhadap Gio—Papa Kandungnya—karena ia pikir Gio lah yang tidak mau mengurusnya, tapi dengan seiringnya berjalannya waktu dan dengan bujukan Dhimas—Papa Tirinya—ia mau memaafkan Gio.

Namun, entah kenapa, Ganda ingin keluar dari rumahnya di Bandung, ia ingin pindah ke rumah Gio di Jakarta, yang sempat di tolak Tara—Mama Kandungnya—karena Tara merasa gak bisa jauh dari Ganda. Tapi Ganda ngotot ingin pindah ke Jakarta. Alhasil sekarang ia tinggal dengan Papa Kandungnya, meninggalkan Bandung yang memiliki sejuta kenangan.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ganda?

Di Jakarta, Ganda bertemu dengan Nadya, cewek bawel yang sejak pertama bertemu kayaknya udah tertarik dengan Ganda, jadi dia suka banget ngikutin Ganda kemana-kemana, dan bahkan mereka satu kelas

Ganda juga enggak terlalu suka berinteraksi sama orang. Atau bolehkah aku sebut bahwa ia trauma? Ia trauma karena sedari kecil ia hidup dengan cacian orang banyak yang menganggapnya anak haram?

“Papa nggak akan pernah berhenti ngerasa bersalah sama kamu, A. Tapi, kalau bisa mutar waktu, Papa lebih pengin kamu ada dengan cara yang jauh lebih baik.”

“Bukan jadi anak haram.”

“Nggak ada anak haram,” tegur Gio. “Yang Papa sama Mama kamu lakuin yang haram, bukan kamu.” — Hal. 98

Kebanyakkan, kesalahan orangtua juga berdampak kepada sang anak. Nggak ada yang namanya anak haram, tapi orangtuanya lah yang melakukan hal haram. Jika saja anak itu bisa meminta kepada pencipta untuk lahir dengan keadaan normal, pasti dia akan melakukan hal itu. Tapi kenapa semua orang malah mencemooh anak itu dengan kata ‘anak haram’ yang sangat menyakiti hati anak-anak?

Di sekolah, Ganda juga punya musuh, seniornya yang suka banget gangguin Nadya. Dan Ganda juga yang ngajakin Tommy bertengkar, walaupun kesalahan awal terletak pada Tommy dengan kurang ajarnya menumpahkan siomay ke kepala Ganda.

“Kalau bisa nggak cari ribut, jangan cari masalah. Tapi kalau emang kamu duluan yang diganggu, ya jangan diem aja. Bego itu namanya.” – Hal. 108

Mungkin Tommy sakit hati, sehingga ia melakukan hal yang keji terhadap Ganda. Ia beserta teman-temannya mengeroyok Ganda saat pulang sekolah.

Karena hal itu Tommy dan teman-temannya di DO, tapi nggak bisa sampai masuk penjara karena orangtua Tommy termasuk orang berpengaruh.

“Begitulah negara kita tercinta. Kalau bokap lo bukan orang besar, toilet lo belum berlapis emas, nggak usah cari masalah.” — Hal. 221

Part yang bikin aku nangis ialah saat Papa dan Mama Jess dateng ke rumah mereka saat ulang tahun Navisha. Disana Papa dan Mama Jess menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Ganda.

Ganda sakit hati, dan untuk pertama kali sejak ‘melarikan diri’ dari Bandung, Ganda benar-benar ingin pulang dan menangis di pelukan mamanya.

“Dia lelah menjadi satu-satunya tersangka dari kebodohan orangtuanya.” — Hal. 115

Ucapan Papa Jess benar-benar membuat segala kenangan buruk itu kembali. Kenangan yang selama ini selalu ia tekan ke titik terdalam hatinya.

“Aku nggak peduli ya kalau papa kamu menghina aku, ngatain aku apa aja, aku terima. Tapi jangan bawa-bawa anakku!” Gio berteriak keras, “Ganda nggak salah apa-apa! Kenapa dia yang harus kena?!” — Hal. 118

“…Kamu bukan kesalahan, bukan pengaruh buruk buat siapapun.” — Hal. 121

“Peduliin aja orang yang emang peduli sama kamu, yang sayang sama kamu. Itu jauh lebih baik daripada kamu pusing mikirin orang yang sama sekali nggak peduli sama kamu.” — Hal. 125

Terjawab sudah semua teka-teki yang selama ini aku cari. Kenapa Ganda memutuskan untuk pergi dari Bandung, dan sekarang menjaga jarak dengan Papa tirinya.

Siapapun anak yang di perlakukan seperti itu pasti akan sakit hati dan sedih. Apalagi, selama ini Dhimas—papa tirinya—lah yang selalu menjadi panutannya sejak kecil, menjadi idola dan sosok Ayah yang selama ini ia cari.

Jadi, pas di ceritain tentang kejadian itu dari mulut Ganda, sumpah aku sedih banget. Gimana anak 14 tahun, yang sedari kecilnya sudah menerima caci maki masyarakat dengan sebutan ‘anak haram’ mendapatkan hal itu lagi dari seseorang yang selama ini menjadi panutannya, yang bisa di bilang sudah menghapus memori lama itu, dan berganti menjadi memori kebahagian.

“Meminta maaf itu gampang. Memberi maaf sedikit lebih sulit, tapi masih bisa dilakukan.” — Hal. 217

“Aku tahu gimana nggak enaknya kena getah kelakuan jelek orangtua kita, padahal kita nggak salah apa-apa.”  — Hal. 237

“Seumur hidup, aku udah kenyang dengar hinaan orang ke Mama. Dari sindiran halus, nyelekit, sampai yang terang-terangan kasar. Bukan cuma ke Mama, tapi juga ke aku. Dibilang anak haram, pembawa sial, penyakit masyarakat.”  Ganda tersenyum sinis. “Mereka semua berasa hakim Tuhan yang berhak buat nge-judge kami.”  — Hal. 240 



My Heart about this Book


No Place Like Home mungkin akan menjadi novel teenlit kesukaan aku selamanya, kenapa aku bilang seperti itu? NPLH bukan kisah teenlit kebanyakan di Indonesia, yang bad boy ketemu cewek polos atau sebaliknya. Aku nggak bilang yang seperti itu nggak bagus yaa, cuman NPLH adalah novel yang bener-bener aku tunggu selama ini.

Moral Velue di dalam novel ini tuh banyak banget, sukses bikin aku baper parah, udah termasuk ke tahap akut kali yaa, terus juga aku udah berkali-kali baca novel ini dan selalu nangis. Entah kenapa, padalah udah pasti aku tahu jalan ceritanya, tetep aja baper. Huh, good job kak Al!

Selain tentang keluarga, novel ini juga berkisah tentang percintaan ala remaja yang juga beda. Ganda nggak mau mengikuti jejak orangtuanya dan memilih untuk tidak berpacaran terlebih dahulu, namun dia bertemu dengan Nadya yang mau berteman dengannya walaupun Ganda cenderung nggak mau tahu urusan Nadya wkwk, pokoknya mereka lucu banget.

Buat Ending sendiri aku suka, cuman kenapa gantung gitu yaa? Wkwk aku kayak gak mau pisah sama Aa Ganda ini, ya ampun aku udah jatuh hati sama cowok dingin dan irit bicara ini…

5 LOVE for Gandana Wanudara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s